Home / Al-Quran / Tiga Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an
keajaiban alquran

Tiga Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an

Selain i’jaz al-Lughowi (mukjizat bahasa) dengan keindahan tata bahasa yang luar biasa, Al-Qur’an juga memiliki i’jaz al-ilmi atau mukjizat ilmu pengetahuan. Bahkan, banyak ahli mengatakan, masih ada ratusan ayat dalam Al-Qur’an yang belum terungkap sisi mukjizat ilmu pengetahuannya.

Pada tulisan singkat ini, saya ingin mengemukakan tiga contoh ayat al-Qur’an yang sisi mukjizat ilmu pengetahuannya baru bisa ditafsirkan di abad kedua-puluh ini. Tentu saja, penafsiran seperti ini masih harus diuji secara ilmu pengetahuan terus menerus.

Pertama: Jasad Fir’aun.

Pada surah Yunus ayat 92. Allah SWT berfirman,

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ ءَايَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Seperti kita ketahui, ayat di atas terkait dengan kisah Nabi Musa (alaihi salam) yang dikejar Fir’aun, lalu Fir’aun mati tenggelam di Laut Merah.

Para ahli tafsir generasi awal seperti Ibnu Katsir mengatakan bahwa para pengikut Fir’aun mula-mula tak percaya jika rajanya sudah mati. Lalu, Allah menimbulkan jasadnya dari laut, hingga mereka benar-benar yakin akan hal itu. Pendapat yang mirip dikemukakan oleh Imam At-Thabari dengan merujuk pada penjelasan Ibnu Abbas tentang tentara Fir’aun yang meragukan kematian raja mereka, lalu Allah timbulkan di permukaan laut.

Penjelasan para ahli tafsir itu tentu saja dibatasi dengan informasi ilmu pengetahuan di zamannya.

Maka, kajian mendalam tentang peristiwa itu menarik sekali. Studi arkeologi menemukan bahwa Fir’aun di zaman Nabi Musa adalah Ramses II (diyakini berkuasa antara 1279 – 1213 Sebelum Masehi), dan para ahli tafsir generasi awal tadi membatasi kata “selamatkan badanmu” dengan sebatas ditimbulkan ke permukaan untuk meyakinkan tentara Fira’un.

Mengapa demikian? Sebab informasi tentang utuhnya jasad Ramses II memang belum ditemukan. Jasad Ramses II baru ditemukan secara utuh pada tahun 1813 di sebuah lembah yang mungkin bagian dari Laut Merah. Lembah itu telah tertutup pasir ribuan tahun. Salah satu ahli yang terlibat adalah Johan Ludwig, seorang warga negara Swiss dan tokoh yang juga berperan “menemukan” situs Petra di Jordania.

Kini jasad Ramses II tersimpan utuh sebagai mumi di sebuah museum di Mesir. Semoga suatu saat Anda bisa ke sana dan menyaksikan kebesaran firman Allah SWT.

Kedua: Sidik Jari.

Setiap kali terjadi kecelakaan pesawar udara seperti yang terjadi Lion Air JT 610 beberapa waktu lalu, biasanya jenazah-jenazah akan diidentifikasi menggunakan data “ante mortem” dan “post mortem” yang dimiliki para korban.

Selain data gigi dan test DNA, sidik jari adalah salah satu cara primer untuk memastikan identitas seseorang.

Empat belas abad lalu, Allah SWT telah mengingatkan kepada kita ketika orang-orang kafir meragukan hari kebangkitan. Allah SWT berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ (*) بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”. (QS Al-Qiyamah 3-4).

Berabad-abad lamanya, para ahli tafsir generasi awal bertanya, mengapa Allah SWT memberi contoh kekuasaan-Nya dengan mengembalikan ujung jari manusia pada hari kiamat nanti? Bukankah ujung jari terlihat sederhana bila dibandingkan dengan struktur otak, misalnya.

Karena itu Imam Al-Qurtubi hanya menafsirkan, “jika pada pengembalian jari saja mampu dilakukan, maka demikianlah pada tulang-belulang.” Penafsiran Imam al-Qurtubi (dan ulama tafsir lainnya) itu tentu saja terbatas pada kemampuan ilmu dan teknologi di zamannya.

Namun, setelah Jan Evangelista Purkyně (1787–1869), seorang professor anatomi dari Universitas Breslau, Ceko, menemukan sembilan formula sidik jari, penafsiran ayat “sidik jari” ini menarik untuk dilakukan.

Ternyata, pada setiap manusia, sidik jarinya berbeda. Bahkan, kemungkinan kesamaan sidik jari adalah satu pada setiap dua milyar manusia. Artinya, bila penduduk bumi saat ini adalah delapan milyar manusia, maka potensi kesamaan hanya ada pada empat pasangan.

Maka, Allah menegaskan bahwa Dia mampu mengembalikan manusia pada struktur yang paling tak sama sedikitpun, yaitu sidik jari. ALLAHU AKBAR!

Ketiga: HYPOXIA

Salah satu hal yang mengancam seorang pendaki atau pilot pesawat adalah hypoxia. Yaitu, kondisi ketika seorang pendaki di ketinggian atau penerbang berada di udara, dan tanpa disadari olehnya, dia mengalami kekurangan oksigen. Gejala seseorang mengalami hypoxia, antara lain, adalah dada terasa sesak namun dia mengalami rasa senang (euforia) yang berlebih.

Jika Anda pernah naik gunung dan berada di ketinggian, Anda merasakan sesak tapi ingin berteriak dan tertawa-tawa. Padahal sesungguhnya Anda sedang mengalami hypoxia.

Perbedaan hypoxia yang Anda alami dengan seorang pilot adalah Anda tidak bergerak cepat, sedangkan pilot tengah mengemudikan pesawat.

Dan, tahukah Anda bahwa kecepatan rata-rata pesawat komersial adalah tiga ratus meter per-detik. Jadi, kalau seorang pilot mengalami hypoxia dalam lima detik saja, misalnya, maka dia telah kehilangan kontrol atas pesawatnya sejauh satu setengah kilometer. Maka, bisa dibayangkan bahwa akibatnya akan sangat fatal.

Allah SWT menggambarkan, seorang yang tidak beriman seakan pendaki atau penerbang yang mengalami hypoxia itu, dalam salah satu firman-Nya,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ — الانعام: 125

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa pada orang-orang yang tidak beriman”. (QS Al-An’am: 125).

Masya Allah, empat belas abad lalu, ketika belum ada teknologi penerbangan, Allah telah mengingatkan bahwa meskipun kaya raya dan penuh tawa canda, seorang yang tak mendapat hidayah itu sesungguhnya mengalami sesak dada layaknya seorang yang tengah mendaki gunung atau pilot yang mengalami hypoxia di angkasa sana.

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan