Home / Nasihat / Sudahkah kita mencintai Rasulallah ﷺ?

Sudahkah kita mencintai Rasulallah ﷺ?

Suatu hari Rasulallah ﷺ berkata ke Ibn Mas’ud “Bacakanlah padaku al-Qur’an”. Ibnu Mas’ud menjawab, “Bagaimana aku bacakan padamu sedangkan ia turun untukmu?”

Rasulallah ﷺ pun berkata, “Bacakanlah: sesungguhnya aku senang mendengarnya dari selain aku”.

Ibnu Mas’ud kemudian membaca surah An-nisa. Ketika sampai pada satu ayat, Rasulallah ﷺ berkata, “Cukup..cukup”. Air matanya menetes dari kedua kelopak yang mulia.

Tahukah kita, ayat apa yang membuat Rasulallah ﷺ meneteskan airmatanya? Ayat itu berbunyi,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad ﷺ) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (QS An-Nisa: 41).

Demikianlah kecintaan Rasulallah ﷺ pada kita. Beliau ﷺ memikirkan kita bagaimana nanti di padang Mahsyar, saat semua umat manusia dibangkitkan dan bersiap menghadapi hisab Allah.

Lalu sudahkah kita mencintai Rasulallah ﷺ?

Seharusnya keterpesonaan kita pada Rasulallah ﷺ, adalah Abu Bakar yang membiarkan seekor kala jengking menggigitnya semata agar Rasulallah ﷺ tak terbangun dari tidurnya dalam perjalanan hijrah. Bukankah Abu Bakar juga pernah berkata, “ketika al-Musthafa (Muhammad ﷺ) berada di hadapanku, kupandangi pesonanya dari ujung kaki ke kepala. Tahukah kalian apa yang menjelma? Cinta!

Sudahkah kecintaan kita pada Rasulallah ﷺ seperti Umar bin Khattab. Dalam suatu riwayat disebutkan, Umar berkata, “Sesungguhnya engkau ya Rasulallah adalah orang yang paling aku cintai dari pada segala sesuatu selain diriku sendiri”. Mendengar itu, Rasulallah ﷺ berkata,

لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri’.

Maka Umar bin Khattab pun berkata, “Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”.
Maka Rasulallah ﷺ pun bersabda,

اْلآنَ يَا عُمَرُ

‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku, wahai Umar.” (HR. Al-Bukhari).

Seharusnya kecintaan kita pada Rasulallah ﷺ adalah setingkat wanita Anshar Madinah yang bertanya tentang Rasulallah ﷺ setelah perang Uhud.

Dikisahkan, saat perang Uhud, banyak di antara sahabat Rasulullah ﷺ yang terbunuh. Rasulullah ﷺ sendiri terluka, bahkan beredar rumor bahwa beliau gugur dalam perang itu. Kabar itu mengejutkan para wanita muslimah di Madinah dan banyak di antara mereka yang keluar rumah untuk mencari berita yang sebenarnya. Seorang wanita Anshar melihat seseorang datang dari medan Uhud.

Wanita itu mendekati laki-laki tersebut dan menanyakan kabar Rasulullah ﷺ. Karena laki-laki itu mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ dalam keadaan aman dan dia tidak sangsi lagi akan keselamatan beliau, ia menjawab, “Bu, ayah anda tewas dalam perang.” Betapa menyedihkan berita itu! Ia terhenyak tetapi wanita Anshar itu cepat menguasai diri, dan bertanya lagi, “Bagaimana nasib Rasulullah ﷺ? Apakah beliau masih hidup?”

Lagi lelaki itu tidak menjawab pertanyaan wanita Anshar itu dan malah berkata, “Saudara anda juga terbunuh.” Berita duka yang kedua kalinya!

Tetapi wanita Anshar itu cepat tersadar dari kesedihannya dan ia mengulangi pertanyaannya.
Lagi laki-laki itu menjawab, “Suami anda juga gugur dalam perang.” Berita duka yang ketiga kalinya!

Wanita itu tetap tegar menerima berita itu dan dengan suara pilu ia berkata, “Aku tidak ingin menanyakan siapa di antara anggota keluarga yang terbunuh dan siapa yang masih hidup. Aku tidak menginginkan informasi itu sekarang. Tolonglah katakana kepada kami bagaimana nasib Rasulullah ﷺ ?” Laki-laki itu menjawab, “Rasulullah ﷺ dalam keadaan aman.” Raut muka wanita Anshar itu sumringah, berseri-seri. “Pengorbanan (keluargaku) tidak hilang sia-sia,” kata wanita Anshar itu terharu.

Bagaimana kami mengaku mencintaimu, Ya Rasulallah ﷺ, sedangkan saat namamu disebut (atau ditulis) saja kami tak bershalawat padamu. 😭😭😭

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Para Pengusaha Sejati

Jika kita membaca sejarah Nabi dan para sahabatnya, ada satu hal yang sering terlupa. Bahwa …

Tinggalkan Balasan