Home / Nasihat / Mempersiapkan Kematian
Kultum Kematian

Mempersiapkan Kematian

Ketika seseorang dinyatakan meninggal oleh dokter, sanak keluarga yang melayat bertanya, “Di mana jenazahnya?” Saat hendak dimandikan, amil yang akan memandikan berkata, “Tolong bantu angkat jenazahnya”. Ketika akan dishalatkan, imam shalat berkata, “Mari kita shalatkan jenazah ini”. Begitu juga saat hendak dikuburkan, tukang gali kubur bilang, “Jenazahnya turunkan pelan-pelan”.

Sejak dinyatakan meninggal, seseorang tidak lagi dipanggil dengan nama, gelar, jabatan, kedudukan, suku, dan embel-embel lainnya. Bahkan, saat fisiknya masih ada di depan mata. Ia dipanggil dengan satu kata, “jenazah”.

Kematian akan menghampiri setiap anak manusia. Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya untuk selalu bersiap diri pada kematian.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah ﷺ, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka”. Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik”. (HR Ibnu Majah)

Dalam riwayat Imam Bukhari diceritakan, ketika ajal datang menghampiri Rasulallah ﷺ, Beliau ﷺ berkata,

 لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

” Tiada tuhan selain Allah. Sungguh pada (setiap) kematian terdapat sekarat”.

Itulah sebabnya para sahabat Nabi mempersiapkan kematian dengan sangat sungguh-sungguh.

Diriwayatkan, ketika menghadapi hari-hari kematiannya, Abu Bakar As-Shiddiq sering membaca surah Qaaf ayat 19.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu berlari dari padanya”

Abu Bakar berpesan kepada putrinya Aisyah, “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru daripada yang sudah jadi mayit.”

Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, sahabatnya bernama Abdullah bin Abbas datang menjenguknya. Dia berkata, “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulullah ﷺ saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulullah ﷺ wafat dia sudah ridha denganmu.”

Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “Celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”

Setelah ditusuk oleh orang-orang yang memberontak hingga darah mengalir ke janggutnya, Utsman bin Affan berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini”.

Menjelang kematiannya, Ali bin Abi Thalib berkata, “Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku?” Mereka menjawab, “Kami telah menangkapnya.” Ali  berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, pukullah dia sekali pukul saja. Jangan kalian tambahkan sedikit pun.”

Ali kemudian berpesan kepada putranya Hasan agar memandikannya. Ia berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengafaniku. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras”.

Para sahabat yang mulia itu mempersiapkan diri menjelang kematiannya. Karena itu, tak ada kata lain bagi kita kecuali segera bertobat. Ibnul Jauwzi berkata, “Menyesal sekali seorang hamba, semakin banyak dosanya semakin sedikit istighfarnya. Dan semakin dekat dengan kuburnya semakin kuat penyimpangannya”.

Setelah kematian merenggut seseorang dan ruhnya kembali kepada Allah, fungsi organ tubuhnya masih tersisa beberapa saat. Hatinya bertahan sepuluh menit, matanya bertahan dua jam, tulangnya bertahan tiga puluh hari, dan selebihnya dia akan bertemankan amal-ibadahnya di alam kubur.

Nasihat Ibnul Qayyim menarik untuk direnungkan. Beliau berkata,

عِشْ كُلَ يَوْمِِ فِي حَيَاتِكَ وَكَأنَهُ اليَومُ الآخِر، فَأحَدُ الْايَامِ سَيكوُنُ كَـذَلك.

“Jalanilah setiap hari dalam hidupmu seakan-akan hari terakhir. (Mengapa?) Sebab pasti salah satu hari dari hari-hari itu akan benar terjadi (sebagai hari terakhir)”.

Dan Ali Zaenal Abidin membuat puisi penutupnya,

لَيْسَ الغَريبُ غَريبَ الشَّامِ واليَمَنِ * إِنَّ الغَريبَ غَريبُ اللَّحدِ والكَفَنِ – زين العابدين

“Bukanlah menjadi orang asing itu karena kita mengunjungi Suriah dan Yaman * Sungguh menjadi asing itu saat kita masuk liang lahat dan dibungkus kain kafan”.

😭😭😭

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan