Home / Al-Quran / Ketika Allah Berfirman Dengan Kata Bersuku-Kata Dua

Ketika Allah Berfirman Dengan Kata Bersuku-Kata Dua

Jika kita perhatikan, di dalam al-Qur’an, ada sejumlah kata yang terdiri dari dua suku kata yang diulang. Berikut ini kita lihat beberapa contoh:

1. Kata “صرصر” dalam firman Allah SWT berikut ini:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

“Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin”. (QS al-Haaqah: 6)

Kata صرصر di ayat tersebut umumnya diterjemahkan sebagai “angin topan”, walaupun — menurut saya — tidak seratuspersen tepat. Mengapa? Sebab, semua kata yang terdiri dari dua suku kata seperti itu menunjukan peristiwa yang terulang bolak-balik terus menerus.

Terjemahan “angin topan” punya pemahaman, angin yang bertiup kencang dalam satu arah. Misalnya, angin yang bertiup dari arah barat ke arah timur dengan kecepatan tinggi.

Semestinya, صرصر itu berarti angin bertiup bolak-balik menimpa kaum ‘Ad. Jadi, dia bukan sekedar angin topan, tetapi angin puting beliung (twister) yang memporak-porandakan. Kita bisa bayangkan, beberapa waktu lalu, angin puting beliung yang hanya sebentar saja bisa memporak-porandakan sebagian kota Bogor, maka apalagi angin yang menimpa kaum ‘Ad. Sebab di ayat berikutnya dijelaskan, mereka dihantam selama tujuh malam delapan hari.

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (7)

Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)” (QS al-Haqqah: 7)

2. Contoh kedua adalah kata زلزال dalam firman Allah SWT,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”, (QS al-Zilzalah: 1).

Kata “زلزال” juga menunjukan proses dari dua arah. Yaitu, apabila bumi diguncangkan dengan gempa yang menggoyang keras. Tentu, gempa itu terjadi dengan “sekali goyang ke kanan, sekali bergoyang ke kiri”.
Dalam bahasa Indonesia, kita suka bilang “zigzag” untuk orang yang berkendara meliuk-liuk ke kanan dan kiri.

Kata yang lebih dahsyat dari زلزال adalah kata دمدم dalam firman Allah SWT,

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا

“Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah)” (QS As-Syams: 14).

Pada ayat itu, Allah membinasakan kaum Nabi Shaleh dengan cara lebih dahsyat dari sekedar gempa (زلزال). Yaitu dengan diruntuhkan bangunan rumah mereka dan diratakan dengan tanah. Kata yang digunakan Allah adalah “دمدم” yang juga terdiri dari dua suku kata yang berulang, dan bermakna (kurang lebih) gempa terjadi ke atas dan ke bawah secara terus menerus hingga rumah mereka rata ditelan bumi. Jadi دمدم itu lebih dahsyat dari زلزال

Semula kita tak bisa membayangkan bagaimana gempa membuat rumah tertelan bumi, tapi begitu gempa Palu terjadi, kita melihat ada jalan raya yang bisa lebih tinggi dari atap rumah akibat goyangan gempa. Mungkin gempa Palu adalah contoh دمدم yang ringan sedangkan kaum Nabi Shaleh mengalami guncangan yang sangat dahsyat. Anda tahu, apa kesalahan utama kaum Nabi Sholeh? Sebab mereka selalu berlaku curang!

3. Contoh ketiga. Ada kata lain yang menggunakan dua suku kata dan diulang, yaitu kata عسعس dalam firman Allah SWT,

وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَس

“Demi malam apabila telah larut” (QS At-Takwir: 17).

Nah, penerjemahan “malam telah larut” apakah tepat di ayat ini? Mengingat kata-kata lain yang mengunakan dua suku kata yang diulang menunjukan peristiwa yang berulang.

Lalu, mengapa kita menerjemahkannya “menjadi larut”, padahal peristiwa larut itu sekali saja?

Hal lain yang menarik di ayat ini, Allah menggambarkan malam sebagai suatu makhluk ciptaan-Nya. Hari menjadi “malam” bukan semata karena “hilangnya cahaya matahari”, tetapi dia merupakan makhluk yang diciptakan oleh-Nya. Maka, dalam ayat lain, misalnya, Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan telah Kami jadikan (ciptakan) malam sebagai pakaian”. (QS An-Naba: 10).

Ada begitu banyak ayat yang menceritakan penciptaan malam. Ketika Thomas Alva Edison menemukan lampu pijar, dia menemukan sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi.

Tetapi, belum ada manusia yang bisa “menciptakan” malam hingga hari ini. Buktinya? Belum ada alat yang bisa mengantarkan “malam” seperti lampu listrik yang bisa mengantarkan cahaya.

Mungkin, itulah di antara rahasia ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an yang perlu kita pelajari bersama.

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan