Home / Nasihat / Berlaku Baiklah pada Wanita

Berlaku Baiklah pada Wanita

Saat menunaikan ibadah haji dan menyampaikan khutbah terakhirnya (Khutbah Wada’), Rasulallah SAW  berpesan, antara lain, tentang wanita, “...kalian telah mengambilnya (dari orang tua mereka) dengan nama Allah dan menjadi halal menikmati tubuh mereka juga dengan nama Allah, maka bertaqwalah kalian kepada Allah dalam urusan wanita, nasehatilah mereka dengan baik-baik…“.

Mengapa Rasulallah SAW berpesan soal wanita di saat menyampaikan khutbah wada’?

Di tengah kehidupan yang semakin materialistis saat ini, banyak suami yang berlaku semena-mena pada pasangan hidupnya. Padahal, sikap pada wanita adalah cermin akhlak seorang pria. Rasulallah SAW berkata,

إنما النساء شقائق الرجال ما أكرمهن إلا كريم وما أهانهن إلا لئيم

“Sesungguhnya, wanita adalah belahan (jiwa) laki-laki. Tidaklah menghormati mereka kecuali orang-orang yang punya sikap mulia, dan tidak pula melecehkan mereka, kecuali orang-orang yang punya sikap tercela (pula)”.

Sebagai belahan jiwa kaum pria, wanita memiliki rasa cemburu yang berbeda. Karena itulah, rumah tangga Rasulallah SAW harus menjadi teladan dalam merawat cinta dan mengelola cemburu.

Suatu hari, Aisyah pernah berkeringat dingin dibakar cemburu. Pasalnya, Sofiyah, isteri Rasulallah SAW  yang lain, mengirimkan makanan pada Rasulallah SAW saat beliau berada di rumah Aisyah. Saking cemburunya, Aisyah sampai memecahkan wadah makanan kiriman Sofiyah itu. Seraya mengumpulkan makanan yang jatuh itu, Rasulallah SAW memerintahkan Aisyah dengan berkata, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama pula” (HR-Nasai’).

Sungguh luar biasa. Rasulallah SAW tidak memarahi Aisyah, apalagi sampai membentaknya. Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulallah SAW tahu persis kapan Aisyah sedang senang hatinya, kapan pula Aisyah sedang kesal, sampai Aisyah bertanya, “Bagaimana engkau tahu (hal itu)?” Rasulallah SAW menjawab,  “Jika sedang senang, engkau berkata “ya, demi tuhan Muhammad,” dan jika sedang kesal engkau berkata, “ya, demi Tuhan Ibrahim”.

Apakah itu berarti Aisyah pernah membangkang pada Rasulallah SAW sebagai suaminya? Tidak. Pernyataan Aisyah  berikutnya sungguh romantis. Aisyah berkata, “Aku tidak pernah membangkang (padamu, Ya Rasulallah) kecuali hanya (di bibir) menyebut namamu saja”.

Sebagai wanita, Aisyah juga pernah ingin perhiasan duniawi. Suatu hari, Aisyah menceritakan kepada Rasulallah bahwa dia dan sepuluh orang wanita lainnya duduk-duduk bersama. Ummu Abu Zar’i, salah satu wanita dalam obrolan itu,  mengatakan bahwa telinganya sampai berat membawa-bawa anting yang diberikan oleh suaminya, Abu Zar’i.

Demi mendengar cerita Aisyah itu, Rasulallah SAW berkata,  “Aku bagimu seperti Abu Zar’i kepada Ummu Abu Zar’i. Kecuali bahwa, dia (Abu Zar’i) akhirnya menceraikan isterinya, dan aku tak menceraikanmu”.

Sikap duniawi yang wajar dan Rasulallah SAW menjawab dengan mententeramkannya. Bahkan, bukan cuma Aisyah, para istri Rasulallah SAW yang lain pun merasakan hal yang sama. Maka semakin banyak kesamaan visi membangun rumah tangga, kekuatan cinta akan terus bergelora. Hidup dalam rumah tangga penuh cinta adalah saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, dan terus menerus membangun pengertian.

Karena itu, pandai-pandailah memuji istri sebagaimana Rasulallah SAW sering kali memuji istri-istrinya. Saling bermanjalah dalam belaian cinta agar menjadi ibadah. Bukankah Rasulallah SAW berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqas, “Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang dengannya engkau mengharap ridha Allah kecuali bahwa engkau akan mendapat pahala, bahkan pada setiap suapan yang kau berikan ke mulut istrimu itu”.

Sayangnya, banyak suami tak memahami wanita dan sikap cemburu yang dimilikinya. Suami mengira bahwa nafkah adalah uang dan harta. Padahal, wanita ingin didengar, ingin dimengerti. Nizar Qabbani, seorang penyair Suriah menulis,

الأُنْثَى لاَ تُرِيدُ رَجٌلاََ ثَريََا أوْ وَسِيمََا أوْ حَتَى شَاعِرََا، هِيَ تُرِيد رَجُلاََ يَفْهَمُ عَيْنَيْهَا إِذَا حَزِنَتْ فَيُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ وَيَقُولُ، هُنَا وَطَنِكِ.

“Wanita tak berharap seorang suami yang kaya, tampan, atau bahkan seorang yang pandai membuat puisi sekalipun. Dia hanya ingin seorang laki-laki yang dapat memahami matanya saat sedih, dan menunjukan tangan ke dadanya yang bidang seraya berkata dengan penuh wibawa, “di sinilah tanah airmu (tempat melepas segala penat dan kegundahanmu itu)”.

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan