Home / Kisah / Belajar Sabar dari Nabi Ayub (Alaihi Salam).

Belajar Sabar dari Nabi Ayub (Alaihi Salam).

Seringkali, dalam menjalani kehidupan ini, kita bertemu dengan persoalan yang menguras energi, menghabiskan emosi dan mengeringkan semangat untuk tetap kuat berdiri. Sabar adalah kunci jawabannya. Dalam ilmu akhlak, sabar dimaknai “berjuang melakukan segala perintah Allah, menjauhi larangannya dan menghindar dari prasangka buruk atas segala takdir-Nya”.

Ia mudah diucapkan, sulit dilaksanakan. Suatu kali, Rasulallah SAW melewati pemakaman. Beliau mendapati wanita menangis tersedu-sedu, beliau kemudian berkata, “bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu menjawab, “engkau tidak merasakan apa yang kurasakan, karena engkau tidak mengalami musibah seperti aku”.

Wanita itu tak mengetahui bahwa itu Rasulallah SAW sampai seseorang kemudian memberitahunya. Dia lalu mendatangi rumah Rasulallah SAW, dan meminta maaf. “Aku tadi tidak mengenalimu”, katanya. Rasulallah SAW pun berkata, “Sesungguhnya sabar itu adalah pada pukulan (hentakan) pertama”. (HR Muslim)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa sabar itu bukanlah selepas kita puas mengamuk, mencaci-maki lalu setelah tersadar, kita mengurut dada sambil berkata, “Aku sabar sekarang”.

Lebih jauh, Rasulallah SAW mengingatkan bahwa para Nabi adalah orang-orang yang paling berat ujiannya, lalu orang-orang shaleh, lalu masyarakat pada umumnya. Karena itu, saat mendapat musibah yang menguji kesabaran, kita berharap sedang naik kelas menuju tangga kemuliaan yang lebih tinggi.

Ibnul Qayyim berkata, “Jika kesulitan hidup yang engkau rasakan berkepanjangan padahal tak pernah berhenti kau berdoa pada Allah, yakinlah bahwa sesungguhnya Allah tidak saja ingin menjawab doa-doamu itu. Tetapi Dia ingin memberikanmu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya”.

Ulama mengatakan, tiga hal yang merusak kesabaran: tergesa-gesa, marah dan cepat putus asa. Umar bin Khattab berkata, “tergesa-gesa adalah perbuatan syaitan”.

Marah juga merusak kesabaran. Dikisahkan bahwa Nabi Yunus tak kuasa menahan emosi. Dia pergi meninggalkan kaumnya yang tak kunjung beriman. Namun, kepergiannya belum mendapat izin Allah SWT. Alih-alih untuk mendapatkan kebebasan, dia justru mendapatkan kesempitan.

Dalam perjalanan lautnya, dia kemudian ditelah ikan paus. Allah berfirman,

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap bahwa: “Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim”. (QS al-Anbiya: 87)

Faktor ketiga yang merusak kesabaran adalah cepat putus asa. Bukankah Nabi Ya’kub tak pernah putus asa mencari puteranya yang hilang hingga Allah pertemukan kembali dengan Nabi Yusuf. Allah SWT abadikan kisah itu pada ayat berikut ini: “Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah…” (QS Yusuf: 87)

Untuk itulah, para ulama mengatakan, dalam hal kesabaran belajarlah dari Nabi Ayub. Memang sebarapa sabar Nabi Ayub? Dalam riwayat diceritakan, ketika Nabi Ayub diuji dengan penyakit, semua orang menjauhinya. Bukan hanya itu, seluruh usahanya bangkrut. Tujuh anaknya meninggal dan ia didera penyakit menjijikan. Saat semua orang menjauhinya, hanya isterinya yang sabar melayaninya.

Hingga suatu hari, isterinya berkata, “Tak bisakah kau meminta Tuhanmu agar menyembuhkanmu dan kehidupan kita kembali normal?”. Sebuah permintaan yang menusiawi. Namun, Ayub menjawab, “Berapa tahun usiaku dalam keadaan sehat dulu?” Istrinya menjawab, “delapan puluh tahun”. Ayub bergumam, “Sungguh tak pantas aku mengeluh untuk sakit yang baru delapan belas tahun ini”.

Allah SWT

kata hati Ayub dalam firman-Nya,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah) kisah Ayub ketika dia bergumam, “Wahai Tuhanku, Engkau pertemukan aku dengan ujian, dan Engkau sebaik-baik pemberi Kasih Sayang”. (QS al-Anbiya: 83).

Ayub tak mengeluh sedikitpun. Sampai suatu hari, Ayub meminum segelas air dan dengan izin Allah seluruh penyakitnya hilang. Ia bahkan kembali muda, tampan dan mempesona. Saat isterinya kembali ke rumah, dia tak mengenali suaminya, dan bertanya, “Hai anak muda, apakah engkau melihat orang sakit yang ada di rumah ini?”

Ayub tersenyum, dan berkata, “Aku-lah orang yang engkau maksudkan itu”. Setelah itu, Allah membalas kesabaran Ayub dan isterinya dengan memberi keturunan, harta dan kesuksesan. Ibnu Abbas mengatakan, “kesabaran Ayub dan isterinya adalah teladan utama dalam menghadapi ujian Allah. Karena itu, keduanya mendapat kehormatan dengan diberikan anak-anak sebanyak dua puluh tujuh orang”.

Sabar selalu memberikan hasil yang berkah.

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan