Home / Al-Quran / Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji

Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji

Dalam salah satu ayat, Allah SWT berfirman:

 يٰأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الفُقَرَاءُ إِلَى اللّٰهِ ۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji”. (QS Faathir : 15)

Ayat itu menarik untuk direnungi, setidaknya, pada tiga hal.

Pertama: Allah menyeru kepada semua manusia, bahwa manusia senantiasa fakir dan Allah-lah yang Maha Kaya. Penegasan di awal ayat itu menunjukan bahwa jika dihimpun seluruh kekayaan manusia, kekayaan tersebut tak ada nilainya apapun di sisi Allah. Maka, bertahmid atau pujilah Allah sebagai bentuk kesyukuran kita atas seluruh rezeki dunia yang telah dilimpahkan-Nya.

Imam Ibnul Qayyim berpesan, “Andai seorang hamba mendapatkan seluruh dunia dan seisinya, kemudian dia berkata, “alhamdulillah”, niscaya pemberian Allah kepadanya atas ucapan hamdallah itu lebih bernilai dari seluruh dunia dan seisinya. Mengapa? Sebab kenikmatan dunia kelak berakhir, sedangkan pahala atas ucapan hamdallah itu kekal hingga yaumil akhir”.

Maka, kejarlah keridhoan Allah. Sebab, jika Dia telah ridha, api tak membakar Ibrahim, laut tak menenggelamkan Musa, paus tak memakan Yunus dan laba-laba menutup pintu bagi menyelamatkan Rasulallah ﷺ dari kejaran kafir Quraisy Mekkah. Karena itu, Imam Ibnu Sirrin berkata, “aku lebih mencintai shalat dari pada surga. Sebab surga untuk kebagiaan aku, dan shalat untuk keridhaan Allah”.

Kedua: Allah menegaskan bahwa manusia senantiasa membutuhkan (fakir) kepada-Nya. Misalnya, oksigen yang kita hirup setiap saat adalah bukti ketergantungan kita kepada Allah. Jika penggunaan oksigen ada tagihannya, entah berapa nilainya. Allah menyediakannya bagi kebutuhan kita secara cuma-cuma. Bahkan, seluruh dunia diciptakan untuk kemaslahatan manusia. Bukankah Rasulallah ﷺ berkata,

…فَإِنَّ الدُّنْيَا خُلِقَتْ لَكُمْ وَأَنْتُمْ خُلِقْتُمْ لِلْآخِرَةِ

“…maka sesungguhnya dunia diciptakan untuk kalian, dan kalian diciptakan untuk kehidupan akherat”.

Apa maknanya?

Bumi tempat kita berpijak ini telah diciptakan Allah dengan segala keseimbangannya. Gravitasi, misalnya. Andai tak ada daya gravitasi di bumi, manusia tak dapat beraktifitas, bahkan bisa punah. Para ahli mengatakan, keberadaan gravitas disebabkan, antara lain, bumi mengandung biji besi. Dari mana biji besi? Apakah dia sudah ada sejak bumi diciptakan? Mari kita fahami.

Dalam salah satu ayat, Allah berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia…” (QS al-Hadid: 25)

Para ahli tafsir generasi awal  tidak tegas menafsirkan kata “telah Kami turunkan besi” pada ayat ini sebab informasi ilmu pengetahuan dan sains di zaman mereka hidup belum mampu membuktikan itu. Dalam teks Arabnya, Allah tegas menyebutkan kata “anzalna”, (telah Kami turunkan) sebuah kata yang sama dengan proses turunnya hujan. Lalu, bagaimana besi bisa diturunkan Allah sementara manusia mengambil biji besi (iron ore) dari perut bumi?

Tafsir Jalalain, misalnya, mengulas ayat itu dengan menulis “sungguh telah Kami kirim utusan kami (malaikat) kepada para nabi dengan dalil-dalil yang tegas. Dan telah kami turunkan kepada mereka al-Kitab (wahyu) dan kami ciptakan atau kami sediakan bagi manusia besi”.

Penafsiran yang mirip dianut oleh Imam As-Suyuthi, ar-Razi dan Ibn Katsir. Hanya Ibn Abbas yang mengatakan, “besi diturunkan sebagaimana Adam diturunkan dari surga”.

Sesungguhnya, (biji) besi memang diturunkan Allah SWT ke muka bumi ini. Penemuan para ahli pada awal abad ke-delapan belas membuktikan itu. Biji besi (iron ore) adalah “benda langit” yang jatuh ke bumi lewat “hujan mateor”, jutaan tahun silam. Penurunan biji besi untuk kemaslahatan manusia di muka bumi agar, antara lain, terjadi gravitasi.

Ketiga: Sifat kekayaan Allah itu adalah sesuatu yang mutlak, melekat dalam dzat-Nya. Maka, Allah tak memerlukan bantuan siapapun. Andai seluruh umat manusia tak ada yang memuji-Nya, tak mengurangi sedikitpun sifat kekayaan dan keterpujian-Nya.

Maka, demi dzat Allah yang Mahakaya itulah kita dianjurkan untuk terus meminta kepada-Nya, berbeda dengan manusia yang apabila semakin kaya semakin membangun jarak dengan saudaranya. Karena itu, Imam Ibnul Qayyim berpesan, “Hamba yang paling dicintai Allah adalah adalah dia yang paling banyak meminta kepada-Nya, merasa selalu membutuhkan-Nya. (Ketahauilah), sungguh Allah mencintai orang-orang yang merengek dalam doanya, dan semakin seorang hamba merengek dalam meminta pada-Nya, semakin dia dicintai-Nya, semakin didekati-Nya dan (pasti) dijawab (segala permintaannya itu) oleh-Nya”.

by: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor).

Check Also

Menjadi Minoritas

Imam Ahmad bin Hanbal, dalam bukunya Az-Zuhud, meriwayatkan bahwa suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab …

Tinggalkan Balasan