Home / Kultum / Mewaspadai Permusuhan

Mewaspadai Permusuhan

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah: 137)

Dalam kehidupan ini, kita dapati begitu banyak manusia saling bermusuhan, meskipun sebenarnya manusia itu saling membutuhkan. Dari permusuhan itu telah muncul sikap dan perilaku kekerasan yang mengakibatkan perpecahan, pertikaian, peperangan, hingga pembunuhan secara biadab.

Sebagai agama benar, islam datang untuk membawa kedamaian dan mewujudkan perdamaian antara manusia. Karena itu, sejarah menunjukkan bahwa kaum muslimin tidak pernah memulai melakukan permusuhan dan peperangan, ternyata sejarah itu terus berulang hingga hari ini, baik dalam pertikaian di dalam negeri seperti di Ambon, Maluku, dan Poso, dimana ummat islam dalam posisi membela diri.

Karena pada dasarnya islam tidak menghendaki terjadi dan berkembangnya permusuhan di kalangan sesama manusia, apalagi antara sesama muslim, maka kita perlu teliti mengapa bisa muncul pada jiwa manusia sikap permusuhan antara sesama manusia. Al-Qur’an menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada tujuh penyebab lahirnya sikap permusuhan.

1. Iri Hati

Hasad, dengki atau iri hati terhadap orang lain atas keberhasilan yang dicapai mereka merupakan salah satu sebab yang sangat dominan bagi terjadinya permusuhan di kalangan manusia, termasuk pada sesama saudara sekalipun. Apalagi kalau sikap itu dibalas oleh orang yang dimusuhi maka permusuhan akan semakin besar. Sebab tanpa dibalas (ditimpali) saja permusuhan sudah timbul.

Iri hati sebagai penyebab permusuhan ini terungkap dalam al-Qur’an tentang peristiwa yang terjadi kepada kedua anak kandung Nabi Adam as, yaitu Qabil dan Habil. Qabil iri hati terhadap Habil yang qurbannya diterima oleh Allah dan berhak mengawini saudaranya yang lebih cantik. Akhirnya Qabil membunuh Habil. Peristiwa terabadikan di dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah (5) ayat 27 s/d 30.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu”. Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang bertaqwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

2. Berpaling dari kebenaran

Sebagai seorang muslim sejati, tentu kita akan selalu berpegang dan berpihak pada kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Penolakan pada kebenaran itulah yang menjadi bibit munculnya permusuhan, karena itu, apabila ada manusia yang tidak mau berpihak kepada kebenaran, mereka akan bermusuhan terhadap siapa saja yang berpegang pada nilai-nilai kebenaran Ilahi.

Sejarah telah menunjukkan hal itu, ketika Umar bin Khattab, Hamzah bin Abdul Muthalib dan lain-lain menerima kebenaran Ilahi, maka yang terjadi adalah persahabatan dan ketentraman hidup, sedangkan penolakan yang dilakukan oleh Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan sebagainya membuat mereka mengibarkan bendera permusuhan hingga terjadi berkali-kali pertumpahan darah dan pembunuhan. Allah swt mensinyalir hal ini di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 137.

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman padanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

3. Terhalang dalam mencapai kebenaran

Permusuhan juga bisa terjadi bila salah satu pihak menganggap bahwa pihak lain merupakan penghalang dalam pencapaian tujuan, walaupun sebenarnya bisa jadi anggapan itu tidak benar atau tidak berdasar. Sebagaimana peristiwa yang dialami oleh Nabi Yusuf as. Saudara-saudara Nabi Yusuf menganggap Nabi Yusuf sebagai penghalang kasih sayang orang tua terhadap mereka. Karena itu mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf. Hal ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 7 s/d 18.

4. Terancam kedudukan dan kepentingannya.

Sebagaimana kita ketahui, orang-orang kafir tidak hanya menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulallah SAW, tapi juga memusuhi Nabi dan para sahabatnya hingga terjadi penganiayaan terhadap umat Islam dan berlangsung peperangan beberapa kali karena kaum muslimin harus mempertahankan diri. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah Muhammad (47) ayat 32.

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat (mencelakai) kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.

Semua itu dilakukan oleh orang-orang kafir karena merasa terancam kedudukan dan kepentingannya bila menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

5. Mempertahankan harga diri dengan cara keliru

Sejarah telah memberi pelajaran kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik begitu keras permusuhannya terhadap Rasulallah SAW dan para sahabatnya serta orang-orang yang beriman, hal ini karena mereka adalah orang-orang yang keliru dalam mempertahankan harga diri, mereka merasa menjadi orang yang benar dengan keyakinan dan kebiasaan mereka, padahal Allah telah menurunkan Islam sebagai agama yang benar. Permusuhan mereka yang keras itu dikemukakan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah (5) ayat 82.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Oleh karena itu siapa saja yang bermaksud mempertahankan diri demi harga diri, padahal telah melakukan kesalahan dan menyadarinya maka ia telah menanam bibit-bibit permusuhan kepada orang yang bermaksud memberinya saran dan koreksi. Padahal saran dan koreksi itu diberikan untuk kebaikannya sendiri.

6. Salah paham

Faktor yang juga harus diwaspadai dari penyebab permusuhan antara manusia adalah kesalahpahaman dalam menyikapi atau menerima sesuatu. Istri dan anak dapat menjadi musuh bagi seseorang hanya diakibatkan oleh kesalahpahaman.

Suami yang baik tentu ingin agar istrinya menjadi baik, namun kadangkala apa yang dilakukan suami disalahpahami oleh istri yang berakibat penetangan dari istri. Begitu pula orang tua terhadap anak. Orang tua menginginkan kebaikan bagi sang anak, namun sering kali anak salah dalam memahaminya, akibatnya tidak jarang anak-orang tua dan suami-istri saling bertengkar dan akhirnya saling membenci.

Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Taghaabun ayat 14:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.

7. Sombong

Sombong atau takabbur merupakan sifat yang ditonjolkan oleh Iblis terhadap Nabi Adam as, ketika itu ia diperintahkan oleh Allah untuk sujud atau menghormati Adam, tapi hal itu tidak mau dilaksanakannya. Ketika Allah bertanya tentang apa yang menghalangi Iblis untuk sujud kepada Adam, dan Iblis menjawab seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Shaad (38) ayat 76

Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan ia (Adam) dari tanah.

Sikap sombong Iblis ini merupakan sesuatu yang amat tidak pantas, apalagi api dan tanah hanyalah benda yang kedudukannya sama-sama makhluk ciptaan Allah, hanya saja fungsinya berbeda. Sayangnya sifat sombong Iblis ini banyak dianut oleh manusia, sehingga merasa lebih baik dari pada manusia lainnya, baik dalam ras, pendidikan, status sosial ekonomi, dan lain-lain. Padahal sombong adalah suatu sifat yang menyebabkan Iblis menjadi musuh Adam dan keturunannya serta menjadikan ia makhluk yang dilaknat Allah.

Karena sifat sombong yang melekat pada iblis inilah maka terjadi permusuhan abadi antara Iblis dan manusia hingga akhir jaman. Maka manusia yang memiliki sifat sombong sebenarnya ia telah menebarkan bibit-bibit permusuhan kepada lingkungannya.

Demikianlah tujuh penyebab permusuhan yang harus kita waspadai agar tidak melekat pada diri kita. Bila kita mempunyai musuh atau orang yang tidak kita sukai atau orang yang tidak menyukai kita, maka mungkin salah satu atau beberapa sifat di atas telah ada pada diri kita. Wallaahu a’lam

Check Also

Ciri-ciri ‘Ibaadur Rahmaan

Melalui mimbar yang mulia ini, kita sbaiknya bersyukur kepada Allah Swt yang telah menciptakan kita …