<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kultum.net</title>
	<atom:link href="http://kultum.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kultum.net</link>
	<description>Kumpulan Materi Kultum (Kuliah Tujuh Menit)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 02:11:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kisah Nyata: AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR&#8217;AN</title>
		<link>http://kultum.net/kisah-nyata-akhir-hayat-penggemar-musik-dan-pencinta-al-quran.html</link>
		<comments>http://kultum.net/kisah-nyata-akhir-hayat-penggemar-musik-dan-pencinta-al-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah nyata pecinta quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran. Bahkan hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.</p>
<p align="justify">Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”</p>
<p><span id="more-48"></span>
<p align="justify">Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.</p>
<p align="justify">Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.</p>
<p align="justify">Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.</p>
<p align="justify">Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.    <br />Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. </p>
<p align="justify">Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.    <br />Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.    <br />Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.</p>
<p align="justify">Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.   <br />Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.</p>
<p align="justify">Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.</p>
<p align="justify">Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.   <br />Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.</p>
<p align="justify">Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. </p>
<p align="justify">Tak ada gunanya…   <br />Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.    <br />Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.    <br />Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. </p>
<p align="justify">Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.</p>
<p align="justify">Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.   <br />Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.</p>
<p align="justify">Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.</p>
<p align="justify">Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.</p>
<p align="justify">Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.   <br />Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.</p>
<p align="justify">Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.</p>
<p align="justify">Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.</p>
<p align="justify">Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.   <br />Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.</p>
<p align="justify">Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.   <br />“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.    <br />Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.    <br />Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.</p>
<p align="justify">Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.</p>
<p align="justify">Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.</p>
<p align="justify">Sampai di rumah sakit…</p>
<p align="justify">Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.</p>
<p align="justify">Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.</p>
<p align="justify">Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.</p>
<p align="justify">Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.</p>
<p align="justify">Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.   <br />Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.    <br />“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.    <br />Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…    <br />Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…</p>
<p align="justify">Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…</p>
<p align="justify">(Azzamul Qaadim, hal 36-42)</p>
<p align="justify">Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48].</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/kisah-nyata-akhir-hayat-penggemar-musik-dan-pencinta-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Diri di ZAMAN KERUSAKAN MORAL</title>
		<link>http://kultum.net/menyelamatkan-diri-di-zaman-kerusakan-moral.html</link>
		<comments>http://kultum.net/menyelamatkan-diri-di-zaman-kerusakan-moral.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 06:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[kultum moral rusak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya, amien. Segala puji bagi Allah, pernahkah diri kita saat bangun dari tidur di pagi hari lalu kita memikirkan bahwa diri kita hidup ini dengan NYAWA yang dipinjamkan oleh Allah kepada kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang senantiasa tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya, amien.</p>
<p align="justify">Segala puji bagi Allah, pernahkah diri kita saat bangun dari tidur di pagi hari lalu kita memikirkan bahwa diri kita hidup ini dengan NYAWA yang dipinjamkan oleh Allah kepada kita ?, dan suatu saat NYAWA itu kemudian akan diminta oleh yang memiliki NYAWA, yaitu Allah Tuhan Semesta Alam, sebagaimana firman-Nya Surat 56: 83-89:</p>
<p><span id="more-22"></span>
<p align="justify"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image1.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb1.png" width="646" height="168" /></a></p>
<p><em>83. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,     <br />84. Padahal kamu ketika itu melihat,      <br />85. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,      <br />86. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?      <br />87. kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?      <br />88. Adapun jika Dia (orang yang mati) Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),      <br />89. Maka Dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan.</em></p>
<p align="justify">Segala puji bagi Allah, betapa kesadaran kita tentang kepemilikan NYAWA yang Allah pinjamkan kepada kita ini adalah sesuatu yang sangat besar manfaatnya, agar kita mau berpikir berikutnya, mengapa Allah meminjami kepada kita masing-masing NYAWA ?, mengapa kita dipinjami oleh Allah dengan NYAWA dan kemudian kita diberi kesempatan untuk hidup di muka bumi.</p>
<p align="left">Pernahkan kita berpikir sejenak ketika orang tua kita memadu kasih sayang sehingga kemudian lahirlah kita sebagaimana firman Allah QS 53:44-47, QS 23:12-13, QS 75:35-38:</p>
<p align="left"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image2.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb2.png" width="641" height="112" /></a></p>
<p>44. dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,   <br />45. dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.    <br />46. dari air mani, apabila dipancarkan.    <br />47. dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),</p>
<p align="left"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image3.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb3.png" width="548" height="61" /></a></p>
<p>12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.   <br />13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).</p>
<p><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image4.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb4.png" width="645" height="122" /></a></p>
<p>36. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?   <br />37. Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),    <br />38. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,</p>
<p align="justify">Dapatkah firman Allah tersebut menggugah kesadaran kita, siapakah yang telah melindungi air mani yang dipancarkan itu, dan kemudian kemudian saling bertemu dan kemudian jadilah manusia ?, siapakah yang mengkondisikan dan mengamankan perjalanan setitik air mani di rahim seorang ibu dan kemudian tumbuh menjadi bayi dan lahir manusia ke dunia ini ?</p>
<p align="justify">Kesadaran yang demikian kita harapkan dapat menggugah hati kita untuk kemudian sadar bahwa di dunia ini kita juga membutuhkan perlindungan Allah SWT. Setidaknya ketika kita telah mulai menyadari, kita kemudian menangisi diri dan anak-anak kita bahwa kita dan mereka itu semua membutuhkan bimbingan dan perlindungan Allah SWT dalam menempuh kehidupan di dunia ini.</p>
<p align="justify">Walhasil bahwa di saat NYAWA-NYAWA masih ada di dalam raga kita, masih dipinjamkan kepada kita, kita harus bersegera menyambut bimbingan Allah dan perlindungan-Nya dengan tekun belajar dan menempuh jalan petunjuk-Nya.</p>
<p align="justify">Dengan mengingat akan lemahnya kedudukan kita, sebaliknya dengan melihat akan begitu Maha Mulia, Maha Tinggi dan Maha Perkasa nya Allah SWT, mendidik jiwa manusia untuk segera lari kepada Allah dan bersegera meninggalkan kelalaian-kelalaian yang tersebar luas di zaman di hari ini.</p>
<p align="justify">Banyak manusia yang akan menyesal di akherat, disebabkan mereka telah kembali ke akherat dengan kedudukan NYAWA yang rendah yang jauh dari Allah, bahkan mereka dibersamakan dengan syaitan di neraka yang menyala-nyala, sebagaimana firman-Nya dalam Surat 67: 8-11 yang artinya:</p>
<p align="left"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image5.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb5.png" width="644" height="169" /></a></p>
<p>8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: &quot;Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?&quot;   <br />9. mereka menjawab: &quot;Benar ada&quot;, Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: &quot;Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar&quot;.    <br />10. dan mereka berkata: &quot;Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala&quot;.    <br />11. mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.</p>
<p align="left">Demikianlah penyesalan NYAWA-NYAWA yang mengabaikan peringatan Allah, sehingga mereka di akherat harus ditempatkan di tempat yang amat menyusahkan.</p>
<p align="justify">Marilah kita umat manusia, apalagi kita umat manusia yang sedang berada di kedudukan puncak, sedang duduk sebagai PEMIMPIN, sebagai PANUTAN, sebagai KOORDINATOR, Lihatlah dengan seksama, ketika sebuah system yang salah tetap dilestarikan, hingga timbul istilah Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama, dan ketika orang-orang yang baik sudah tidak mampu lagi melakukan perbaikan, disebakan karena system yang salah yang sudah berakar dan berurat menggurita dalam sendi-sendi kehidupan.</p>
<p align="justify">PEMIMPIN, PANUTAN, KOORDINATOR, dihari ini pun biasanya sudah memiliki umur yang sudah cukup, dan beberapa saat lagi, NYAWA-NYAWA itu akan diambil oleh yang empunya NYAWA, yaitu Allah SWT. Jangan sampai NYAWA kita termasuk NYAWA yang berkedudukan rendah dan harus ditempatkan di neraka.</p>
<p align="justify">Sambutlah wahai para PEMIMPIN, para PANUTAN, para KOORDITOR, selamatkan dirimu, keluargamu, sahabatmu, masyarakatmu, bangsamu, untuk segera sadar dan kembali kepada jalan-jalan Allah, kembalilah kepada ketekunan menekuni petunjuk-petunjuk Allah, Al-Qur’an dan As-Sunnah, dialah jalan bimbingan dan jalan perlindungan Allah terhadap kehidupan di dunia ini, untuk mencapai ketinggian dan kesucian NYAWA-NYAWA manusia, sebagaimana Firman Allah dalam Surat 39 ayat 53-56:</p>
<p align="left"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image6.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb6.png" width="651" height="288" /></a></p>
<p>53. Katakanlah: &quot;Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.   <br />54. dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).    <br />55. dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu[1315] sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,    <br />56. supaya jangan ada orang yang mengatakan: &quot;Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku Sesungguhnya Termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ),    </p>
<p align="left">&#160;</p>
<p align="left">Wahai para GURU masyarakat, sadarlah bahwa kesesatan yang telah menjamur ditengah-tengah kehidupan, diantaranya adalah termasuk kekurangan-kekurangan yang telah tumbuh akibat salah didik dan salah ajar. Seharusnya DUNIA PENDIDIKAN ikut menangisi kondisi zaman, mengapa anak-anak didik kita, mereka lebih suka memilih jalan yang salah dibanding jalan yang benar.</p>
<p align="justify">Kebanggaan meluluskan alumni harus disertai dengan koreksi diri, berapa anak-anak didik kita yang telah menyimpang hidupnya akibat minimnya bekal TUNTUNAN AGAMA ISLAM, atau bahkan KETIDAK TANGGUHNYA dalam BERPENDIRIAN MEMEGANG KEBENARAN DAN KESANTUNAN dalam menghadapi godaan dan penyimpangan-penimpangan zaman yang terjadi dalam kehidupan.</p>
<p align="justify">Apakah memang kita ini manusia, masyarakat, sekumpulan manusia yang berkwalitas sebagaimana pepatah SEPERTI AIR DI DAUN TALAS, dan kemudian kita tanyakan dalam hati sanubari kapan kita memiliki pendirian, terutama memegang teguh pertanggung jawaban jalan kehidupan kita yang akan kita hadapi ketika kita menghadap kepada Allah SWT yang telah memberi NYAWA kehidupan kepada kita.</p>
<p align="justify">Kita membutuhkan figure-figur GURU, PANUTAN dan PEMIMPIN yang memiliki ketegasan dalam memegang amanah jalan lurus kehidupan, dan tidak mudah tergoyah dengan hempasan ombak Zaman yang penuh dengan kepengapan budaya memeperturutkan hawa nafsu dan melanggar bimbingan kebenaran dan kesopanan.</p>
<p align="justify">Kita membutuhkan manusia-manusia PANUTAN yang memiliki ketegasan di dalam memegang teguh kebenaran yang datang dari Allah SWT, Tuhan Pencipta, dan Pemilik serta Pemelihara semesta Alam, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga NYAWA mereka kembali kepada Allah dalam keadaan di rahmati dan diridhoi. Firman Allah dalam QS. 89: 27-30:</p>
<p align="left"><a href="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image7.png"><img style="background-image: none; border-bottom: 0px; border-left: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px; padding-top: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://kultum.net/wp-content/uploads/2012/05/image_thumb7.png" width="641" height="104" /></a></p>
<p>27. Hai jiwa yang tenang.   <br />28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.    <br />29. Maka masuklah ke dalam jama&#8217;ah hamba-hamba-Ku,    <br />30. masuklah ke dalam syurga-Ku.    </p>
<p align="left">&#160;</p>
<p align="left">Mari berbondong-bondong mengaji Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian kita hayati dan kita amalkan, dan rasakan sejuknya kebahagiaan iman, karena disanalah tempat berlabuh yang paling aman dari kekacauan dan kerusakan zaman, disanalah tempat yang sejuk dan menenangkan NYAWA-NYAWA kita sebelum kita dipanggil oleh Allah masuk kedalam surga-Nya di akherat kelak <em>Wallahu a’alam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/menyelamatkan-diri-di-zaman-kerusakan-moral.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merenungkan Diri sebagai Manusia</title>
		<link>http://kultum.net/merenungkan-diri-sebagai-manusia.html</link>
		<comments>http://kultum.net/merenungkan-diri-sebagai-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 21:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[sifat manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/merenungkan-diri-sebagai-manusia.html</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lainya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia “sering kali” lupa, tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Potensi positif&#160; yang ada dalam diri manusia menjadikannya sebagai hamba yang Bertaqwa, sebaliknya di sisi potensi negative mampu menjadikan manusia menjadi lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lainya. Tetapi kita sendiri sebagai manusia “sering kali” lupa, tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia. Potensi positif&#160; yang ada dalam diri manusia menjadikannya sebagai hamba yang Bertaqwa, sebaliknya di sisi potensi negative mampu menjadikan manusia menjadi lebih rendah dari makhluk yang gak punya akal sekalipun.</p>
<p align="justify">Untuk itu marilah kita ingatkan diri kita ini sebagai manusia, Siapa diri kita ini? Dari mana asalnya? Mau kemana nantinya? Dan yang paling penting adalah bagaimana kita menempuh kehidupan didunia ini supaya selamat mengarungi hidup didunia dan akhirat nanti.</p>
<p><span id="more-18"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Sobat, jika kita mau kembali Kitab Al-Qur’an ternyata telah tertulis berbagai ayat yang menyatakan bagaimana manusia itu sebenarnya. Diantaranya, Manusia itu adalah&#160; :</p>
<p align="justify"><strong>Pertama, Lemah</strong></p>
<h4 align="right"><strong>يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا </strong></h4>
<p align="justify"><em>Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.(QS.An-Nissa : 28)</em></p>
<p align="justify">Ketahuilah bahwa manusia sangatlah lemah, tidak bisa hidup sendiri. Saling membutuhkan dan ketergantungan dengan yang lain</p>
<p align="justify"><strong>Kedua, Suka Tergesa</strong></p>
<h4 align="right"><strong>وَيَدْعُ الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا </strong></h4>
<p align="justify"><em>Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS.Al-Isra’ : 11)</em></p>
<p align="justify">Ketidaksabaran manusia jelaslah terbukti, semuanya ingin terjadi instant. Ihtiar baru sepertiga ingin lekas mendapat hasil. Terkadang sesuatu hal yang menarik hati, menjadikan lupa akal sehat dan logika. Itulah Manusia.</p>
<p align="justify"><strong>Ketiga</strong><strong>, Senang Membantah</strong></p>
<h4 align="right"><strong>خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (QS. An-Nahl : 4)</em></p>
<p align="justify"><strong>Keempat</strong><strong>, Suka Berlebih-lebihan</strong></p>
<h4 align="right"><strong>وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Dan apabila manusia ditimpa bahaya Dia berdoa kepada Kami dalam Keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.</em></p>
<h4 align="right"><strong>كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى </strong></h4>
<p align="justify"><em>Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS.Al-Alaq : 6)</em></p>
<p align="justify"><strong>Kelima</strong><strong>, Lalai dan Pelupa</strong></p>
<h4 align="right"><strong>أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. (QS.At-Takaatsur : 1)</em></p>
<h4 align="right"><strong>وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, Dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali</em> <em>kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya LUPALAH Dia akan kemudharatan yang pernah Dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan Dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”.</em></p>
<p align="justify"><strong>Keenam</strong><strong>, Suka Berkeluh Kesah</strong></p>
<h4 align="justify"><strong>إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا </strong></h4>
<p align="justify"><em>Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (QS. Al-Ma’arij : 20)</em></p>
<p align="justify"><strong>Ketujuh</strong><strong>, Cenderung Kikir</strong></p>
<h4 align="right"><strong>قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لأمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الإنْفَاقِ وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا </strong></h4>
<p align="justify"><em>Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. Al-Isra’ : 100)</em></p>
<p align="justify"><strong>Kedelapan</strong><strong>, Suka Mengkufuri Nikmat</strong></p>
<h4 align="right"><strong>وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya[1349]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (QS. Az-Zukhruf&#160; : 15)</em></p>
<h4 align="right"><strong>إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (QS.Al-’Aadiyaat : 6)</em></p>
<p align="justify"><strong>Kesembilan</strong><strong>, Senang Berangan-angan</strong></p>
<h4 align="right"><strong>يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ </strong></h4>
<p align="justify"><em>Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu. (QS.Al-Hadid : 72)</em></p>
<p align="justify"><strong>Sepuluh</strong><strong>, Dzalim dan Bodoh</strong></p>
<h4 align="right"><strong>إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا </strong></h4>
<p align="justify"><em>Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, (QS.Al-Ahzab : 72)</em></p>
<p align="justify">Itulah sifat-sifat&#160; yang ada dalam diri kita, harus diwaspadai. Begitu banyak sifat buruk yang melekat kepada diri manusia. Allah Maha Adil dan Tidak menyulitkan hamba-Nya, Islam adalah solusi untuk mengatur manusia agar bisa mengarungi ujian di dunia dan menggapai kebahagiaan di akherat</p>
<p align="justify">Alhamdulillah, mari kita syukuri nikmat iman dan Islam ini dengan cara :</p>
<ul>
<li>Tetap taat kepada Allah Walaupun kondisi sesulit apapun </li>
<li>Tetap belajar terus dengan mengkaji AlQur’an dan Assunah </li>
<li>Selalu memperbaiki diri dan tidak menunda pertobatan </li>
<li>Menjaga keimanan dengan tetap dalam kebersamaan dan jamaah      </li>
</ul>
<p align="justify">Manusia memang lemah dan banyak kekurangan tetapi dengan bersatu akan menjadi kuat sehingga bisa selamat dunia dan akherat.</p>
<p align="justify">Dalam <em>Shahih</em> Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi, beliau bersabda,</p>
<h4 align="right"><strong>الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ</strong></h4>
<p align="justify"><em>Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya. </em></p>
<h4 align="right"><strong>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا</strong></h4>
<p align="justify"><em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang&#160; yang bersaudara. (QS.Ali Imran:103)</em></p>
<p align="justify"><em>Semoga Bermanfaat.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/merenungkan-diri-sebagai-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri Muslimah yang Cantik Pribadinya</title>
		<link>http://kultum.net/ciri-muslimah-yang-cantik-pribadinya.html</link>
		<comments>http://kultum.net/ciri-muslimah-yang-cantik-pribadinya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 22:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah cantik]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan cantik]]></category>
		<category><![CDATA[wanita cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/ciri-muslimah-yang-cantik-pribadinya.html</guid>
		<description><![CDATA[Setiap wanita senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam yang lebih dikenal dengan istilah inner beauty adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik belaka. Karena, apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Atau apa gunanya cantik fisik tetapi dibenci orang-orang sekitar karena tindak-tanduknya yang tidak baik. Karena itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Setiap wanita senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam yang lebih dikenal dengan istilah <em>inner beauty</em> adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik belaka. Karena, apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Atau apa gunanya cantik fisik tetapi dibenci orang-orang sekitar karena tindak-tanduknya yang tidak baik. Karena itu, kecantikan dari dalam memang lebih diutamakan untuk menjaga citra diri seorang muslimah.</p>
<p align="justify">Lalu seperti apa sih muslimah yang cantik pribadinya itu, berikut ulasanya:</p>
<p><span id="more-17"></span>
<p align="justify">Menjaga kecantikan dari dalam berarti menjaga etika dan budi pekerti baik, serta menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik berdasarkan sudut pandang syariat Islam.</p>
<p align="justify">Alloh pun dengan tegas menyatakan bahwa antara ciri hamba-Nya yang baik adalah mereka yang baik ucapannya. Mereka yang apabila dihina atau dicaci oleh orang yang jahil atau tidak berilmu, mereka tidak membalasnya kecuali dengan kata-kata baik dan lemah lembut. Alloh berfirman disurat Al-Furqan ayat 63, yang artinya&#160; “<em>Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”</em></p>
<p align="justify">Tak hanya itu, seorang muslimah yang baik akan meninggalkan perkataan-perkataan tidak bermanfaat. sebagaimana Rosululloh bersabda, “<em>Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” </em>Mengenai hadits ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna.”</p>
<p align="justify">Dalam <em>Ad-Daa`wa Ad-Dawaa`</em>, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan lebih lanjut, bahwa “Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang sia-sia. Apabila dia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat bagi agamanya. Apabila dia akan berbicara hendaklah dia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah dia diam, dan apabila bermanfaat hendaklah dia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya dia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang tidak bermanfaat.”</p>
<p align="justify">Termasuk dalam hal ini adalah menjauhi perbuatan ghibah yang berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara. Maka hendaknya para muslimah memperhatikan apa-apa yang diucapkan. Jangan sampai terjatuh dalam perbuatan ghibah yang tercela. Bila setiap wanita muslim bisa menjaga lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insya Alloh mereka akan menjadi seorang muslimah sejati. sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rosululloh <em>Shallallohu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, ”<em>Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”</em></p>
<p align="justify">Pun demikian dengan anggota tubuh lainnya, seperti mata. Untuk menjadikan sepasang mata yang indah dan mempesona, maka pandanglah kebaikan-kebaikan dari orang-orang, jangan mencari-cari keburukan mereka. Alloh berfirman mengenai hal ini disurat al-Hujurat ayat 12, artinya “<em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”</em></p>
<p align="justify">Dan terpenting lagi, mempergunakan mata untuk hal-hal yang diridhai Alloh dan Rosul-Nya. Hal ini berarti tidak menggunakan mata untuk bermaksiat. Pandangan mata adalah mata air kemuliaan, bukan menjadikannya&#160; duta nafsu syahwat sesaat.</p>
<p align="justify">Betapa banyak manusia mulia yang didera nestapa dan kehinaan, hanya karena mereka tidak dapat mengendalikan mata. Yaitu ketika matanya tidak dapat lagi menyebabkan seseorang menjadi bersyukur atas anugerah nikmat, karena dipergunakan secara zhalim. Seseorang muslimah yang menjaga pandangan berarti dia menjaga harga diri dan kemaluannya. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka akan terjerumus ke dalam kebinasaan. Inilah mengapa Rosul menegaskan, “<em>Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”</em></p>
<p align="justify">Lalu peliharalah telinga dari mendengarkan musik, gosip, kata-kata keji dan sesat, atau menyebutkan kesalahan-kesalahan orang. Telinga diciptakan untuk mendengarkan Kalam Alloh dan instruksi-instruksi Rosululloh. Sepasang telinga yang indah dan baik adalah yang bisa mengambil manfaat ilmu-ilmu keislaman.</p>
<p align="justify">Selanjutnya tangan, tangan yang baik adalah tangan yang diulurkan untuk membantu dan menolong sesama muslim, serta bersedekah dan berzakat. Kita diberi dua tangan; satu untuk membantu kita dan satu lagi untuk membantu orang lain. Lalu Islam juga&#160; mengajarkan bahwa tangan ‘di atas’ lebih baik dari tangan ‘di bawah’. Tentang hal ini, suatu ketika, Rosul ditanya oleh para istrinya, “<em>Siapakah di antara kami yang pertama kali akan menemui engkau kelak?”</em> Dengan suara bergetar, Nabi menjawab, “<em>Tangan siapa di antara kalian yang paling panjang, itulah yang lebih dahulu menemuiku.” </em>“Tangan paling panjang” yang dimaksud Rosululloh adalah yang gemar memberi sedekah kepada fakir miskin.</p>
<p align="justify">Maka, jaga baik-baik kedua tangan, jangan dipergunakan untuk memukul seorang muslimah lainya, dipakai untuk mengambil barang haram ataupun mencuri, jangan dipergunakan untuk menyakiti makhluk ciptaan Alloh, atau dipergunakan untuk mengkhianati titipan atau amanah. Atau untuk menulis kata-kata yang tidak diperbolehkan.</p>
<p align="justify">Kemudian kedua kaki yang ‘indah’ adalah yang dipergunakan untuk mendatangkan keridhaan Alloh. Jagalah kedua kaki untuk tidak berjalan menuju tempat-tempat yang diharamkan atau pergi ke pintu penguasa yang kafir. Karena hal itu adalah kemaksiatan yang besar dan sama saja dengan merendahkan diri muslimah. Lalu jangan sekali-kali mempergunakan kaki untuk menyakiti saudara-saudari muslimah, pergunakanlah untuk berbakti kepada Alloh, misalnya dengan mendatangi masjid, tempat-tempat pengajian, berjalan untuk menuntut ilmu agama serta menyambung tali silaturahim, atau melangkahkannya untuk berjihad di jalan-Nya.</p>
<p align="justify">Rosul bersabda, “<em>Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu di jalan Alloh, maka haram atas keduanya tersentuh api neraka.” </em>Beliau menerangkan lagi, “<em>Alloh akan menjamin orang yang keluar (berjuang) di jalan-Nya, seraya berfirman: “Sesungguhnya orang yang berangkat keluar untuk berjihad di jalan-Ku, karena keimanan kepada-Ku dan membenarkan (segala ajaran) para Rasul-Ku, maka ketahuilah bahwa Akulah yang akan menjaminnya untuk masuk ke dalam surga.”</em></p>
<p align="justify">Demikian pula dengan segenap anggota tubuh lainnya. Semuanya akan nampak indah serta mempesona apabila dipergunakan dalam rel ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Kecantikan fisik seorang muslimah bahkan sangat dipengaruhi kecantikan batin. Untuk mendapatkan tubuh yang ramping, maka cobalah untuk berbagi makanan dengan orang-orang fakir-miskin.</p>
<p align="justify">Kecantikan sejati seorang muslimah tidak terletak pada keelokan dan keindahan fisik atau keindahan&#160; pakaiannya. Kecantikannya sangat dipengaruhi perilaku dan ketaatannya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Kecantikan sebenarnya direfleksikan dalam hati dan jiwanya.</p>
<p align="justify">Maka jadikan malu karena Alloh sebagai perona pipinya. Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya. Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat. Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akhirat. Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu. Tangannya selalu berbuat baik kepada sesama. Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah. Gelangnya adalah tawadhu. Kalungnya adalah kesucian, dan seluruhnya dibalut oleh hijab sebagai perisai bagi kehormatanya . Wallohu ’alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/ciri-muslimah-yang-cantik-pribadinya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Berperilaku Seperti Lawan Jenis</title>
		<link>http://kultum.net/tentang-berperilaku-seperti-lawan-jenis.html</link>
		<comments>http://kultum.net/tentang-berperilaku-seperti-lawan-jenis.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 22:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum banci]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berperilaku seperti lawan jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/tentang-berperilaku-seperti-lawan-jenis.html</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan pria setengah wanita adalah fenomena yg tidak terelakkan dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, lepas dari sifat pembawaan mereka, juga tumbuh dari lingkungan pergaulan yang memang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu tuntunan agama menjadi modal penting bagi kita untuk dapat menghadapi deras arus penyesatan. Ibnu ‘Abbas radhiallohu ‘anhu berkata: “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Keberadaan pria setengah wanita adalah fenomena yg tidak terelakkan dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, lepas dari sifat pembawaan mereka, juga tumbuh dari lingkungan pergaulan yang memang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu tuntunan agama menjadi modal penting bagi kita untuk dapat menghadapi deras arus penyesatan.</p>
<p align="justify">Ibnu ‘Abbas <em>radhiallohu ‘anhu</em> berkata: <em>“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”.</em> (HR Al-Bukhari no 5885).</p>
<p><span id="more-16"></span>
<p align="justify">Ath-Thabari <em>rohimahulloh</em> memaknai sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut dengan ucapan: <em>“Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita. Dan tidak boleh pula sebaliknya wanita menyerupai laki-laki”.</em> Al-Hafidz Ibnu Hajar <em>Rohimahulloh</em> menambahkan: <em>“Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan”.</em> Pencelaan terhadap laki-laki atau wanita yang menyerupai lawan jenisnya dalam berbicara dan berjalan, khusus bagi yang sengaja. Sementara bila hal itu merupakan asal penciptaannya, maka ia diperintahkan untuk memaksa dirinya agar meninggalkan hal tersebut secara berangsur-angsur. Bila hal ini tidak ia lakukan bahkan ia terus tasyabbuh dengan lawan jenis, maka ia masuk dalam celaan, terlebih lagi bila tampak pada dirinya perkara yang menunjukkan ia ridha dengan keadaannya yang demikian, yang menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita, seperti berbicara dan berpakaian dengan pakaian mereka.</p>
<p align="justify"><em>“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”</em> . (HR Abu Dawud no 3575)</p>
<p align="justify">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menciptakan laki-laki dan perempuan di mana masing-masingnya Dia berikan keistimewaan, Laki-laki berbeda dengan wanita dalam penciptaan, watak, kekuatan, agama dan selainnya, demikian pula Wanita berbeda dengan laki-laki. Siapa yang berusaha menjadikan laki-laki seperti wanita atau wanita seperti laki-laki, berarti ia telah menentang Alloh dalam qudrah dan syariat-Nya, karena Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memiliki hikmah dalam apa yang diciptakan dan disyariatkan-Nya. Karena inilah terdapat nash-nash yang berisi ancaman keras berupa laknat, yang berarti diusir dan dijauhkan dari rahmat Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, bagi laki-laki yang menyerupai wanita atau wanita yang menyerupai laki-laki. (Syarah Riyadhish Shalihin 4,288).</p>
<p align="justify">Al-Imam Adz-Dzahabi <em>rahimahulloh</em> memasukkan perbuatan ini sebagai salah satu perbuatan dosa besar dalam kitab beliau yang masyhur Al-Kabair hal 145.</p>
<p align="justify">Adapun hukuman yang diberikan kepada pelaku perbuatan ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits “Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>“Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”.</em> Ibnu Abbas berkata: <em>“Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah)”.</em> (HR Al-Bukhari no 5886)</p>
<p align="justify">Bila penyerupaan tersebut belum sampai pada tingkatan perbuatan keji yang besar seperti berbuat mesum, yaitu perbuatan homoseks atau lesbian, maka mereka hanya mendapatkan laknat dan diusir sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Namun bila sampai pada tingkatan demikian, mereka tidak hanya pantas mendapatkan laknat tapi juga hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.</p>
<p align="justify">Adapun Al-Imam An-Nawawi <em>rahimahulloh</em> menyatakan: “bahwa Mukhannats atau laki-laki yang menyerupai wanita ada dua macam.</p>
<p align="justify"><strong>[Pertama]</strong> Hal itu memang sifat asal pembawaannya bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan dirinya untuk bertabiat dengan tabiat wanita, bersengaja memakai pakaian wanita, berbicara seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaannya yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memang menciptakannya seperti itu. Mukhannats yang seperti ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tidak ada dosa serta hukuman baginya karena ia diberi udzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada awalnya tidak mengingkari masuknya mukhannats menemui para wanita dan tidak pula mengingkari sifatnya yang memang asal penciptaan pembawaannya demikian. Yang beliau ingkari setelah itu hanyalah karena mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita (gambaran lekuk-lekuk tubuh wanita) dan beliau tidak mengingkari sifat pembawaannya serta keberadaannya sebagai mukhannats.</p>
<p align="justify"><strong>[Kedua]</strong> Mukhannats yang sifat kewanita-wanitaannya bukan asal penciptaannya bahkan ia menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita, seperti berbicara dan berpakaian yang menyerupai mereka. Mukhannats seperti inilah yang tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dalam hadits-hadits yang shahih.</p>
<p align="justify">Adapun mukhannats jenis pertama, tidaklah masuk dalam celaan dan laknat, apabila ia telah berusaha meninggalkan sifat kewanita-wanitaannya dan tidak menyengaja untuk terus membiarkan sifat itu ada pada dirinya.</p>
<p align="justify">Kemudian bagaimana hukum mukhannats memandang wanita ajnabiyyah atau non mahrom. Dalam hal ini fuqaha terbagi menjhadi dua pendapat,</p>
<p align="justify"><strong>[Pertama]</strong> mukhannats dihukumi sama dengan laki-laki jantan yang berselera terhadap wanita. Demikian pendapat madzhab Al-Hanafiyyah terhadap mukhannats yang bersengaja tasyabbuh dengan wanita, padahal memungkinkan bagi dirinya untuk merubah sifat kewanita-wanitaannya tersebut. Sebagian Al-Hanafiyyah juga memasukkan mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita karena asal penciptaannya walaupun ia tidak berselera dengan wanita, demikian pula pendapat Asy-Syafi’iyyah. Adapun madzhab Al-Hanabilah berpandangan bahwa mukhannats yang memiliki syahwat terhadap wanita dan mengetahui perkara wanita maka hukumnya sama dengan laki-laki jantan) bila memandang wanita.</p>
<p align="justify">Dalil yang dipegangi oleh pendapat pertama ini adalah firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:    <br /><em>“Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka….”</em> (An-Nur: 30)</p>
<p align="justify">Adapun dalil yang mereka pegangi dari As-Sunnah adalah hadits Ummu Salamah dan hadits Aisyah <em>radhiallahu ‘anhuma</em> tentang mukhannats yang menggambarkan tubuh seorang wanita di hadapan laki-laki sehingga Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mukhannats ini masuk menemui istri-istri beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p align="justify"><strong>[Kedua]</strong> mereka berpandangan bahwa mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita karena memang asal penciptaannya demikian (tidak bersengaja tasyabbuh dengan wanita) dan ia tidak berselera atau bersyahwat dengan wanita, bila ia memandang wanita ajnabiyyah atau non Mahrom, maka hukumnya sama dengan hukum seorang lelaki bila memandang mahram-mahramnya. Sebagian Al-Hanafiyyah berpendapat boleh membiarkan mukhannats yang demikian bersama para wanita. Namun si wanita hanya boleh menampakkan tubuhnya sebatas yang dibolehkan baginya untuk menampakkannya di hadapan mahram-mahramnya dan si mukhannats sendiri boleh memandang wanita sebatas yang diperkenankan bagi seorang lelaki untuk memandang wanita yang merupakan mahramnya. Demikian yang terkandung dari pendapat Al-Imam Malik rahimahullah dan pendapat Al-Hanabilah. Dalil mereka adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>: <em>“atau laki-laki yang mengikuti kalian yang tidak punya syahwat terhadap wanita”.</em></p>
<p align="justify">Di antara ulama salaf ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan:   <br /><em>“yang tidak punya syahwat terhadap wanita”</em> adalah mukhannats yang tidak berdiri kemaluannya.</p>
<p align="justify">Dari As-Sunnah, mereka berdalil dengan hadits Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang juga menjadi dalil pendapat pertama. Dalam hadits Aisyah ini diketahui bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada awalnya membolehkan mukhannats masuk menemui istri-istri beliau karena menyangka ia termasuk laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita. Namun ketika beliau mendengar mukhannats ini tahu keadaan wanita dan sifat mereka, beliau pun melarangnya masuk menemui istri-istri beliau karena ternyata ia termasuk laki-laki yang berselera dengan wanita. Inilah pendapat yang rajih, insya Alloh.</p>
<p align="justify">Adapun bila si mukhannats punya syahwat terhadap wanita, maka hukumnya sama dengan laki-laki jantan yang memandang wanita ajnabiyyah atau wanita yang bukan mahromnya, <em>Wallohu’alam bis Showab, </em>Semoga bermanfa’at…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/tentang-berperilaku-seperti-lawan-jenis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tunaikanlah Amanat, Jangan Berkhianat</title>
		<link>http://kultum.net/tunaikanlah-amanat-jangan-berkhianat.html</link>
		<comments>http://kultum.net/tunaikanlah-amanat-jangan-berkhianat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 08:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[amanat]]></category>
		<category><![CDATA[tidak khianat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/2011/09/tunaikanlah-amanat-jangan-berkhianat.html</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadlirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai keni’matan kepada kita dan menunjuki kita ke jalan yang benar. Selanjutnya marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, dengan melakukan tha’at kepada-Nya, dalam angkat melaksanakan amanat yang telah dibebankan Allah kepada kita. Amanat adalah suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadlirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai keni’matan kepada kita dan menunjuki kita ke jalan yang benar. Selanjutnya marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, dengan melakukan tha’at kepada-Nya, dalam angkat melaksanakan amanat yang telah dibebankan Allah kepada kita.</p>
<p align="justify"><strong>Amanat adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan.</strong> Orang yang tidak menunaikan amanat berarti ia <strong>khianat</strong>. Kita semua orang yang beriman telah membaca dua kalimat syahadat, yaitu :</p>
<p><span id="more-12"></span>
<p align="justify"></p>
<h5 align="right">اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ</h5>
<p><em>Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.</em></p>
<p>Dengan mengucapkan syahadat tersebut berarti kita telah berjanji bahwa kita bersedia tha’at kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan kita wajib menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT memerintahkan kepada kita agar memenuhi janji atau menunaikan amanat dan melarang khianat. Firman Allah SWT :</p>
<h5 align="right">ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اَوْفُوْا بِاْلعُقُوْدِ</h5>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu</em>. [QS. Al-Maidah : 1]</p>
<h5 align="right">وَ اَوْفُوْا بِعَهْدِيْ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْ، وَ اِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ</h5>
<p><em>Dan Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)</em>. [QS. Al-Baqarah : 40]</p>
<p>Di dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman :</p>
<h5 align="right">اِنَّا عَرَضْنَا اْلامَانَةَ عَلَى السَّموتِ وَ اْلارْضِ وَاْلجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَ اَشْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا اْلاِنْسَانُ، اِنَّه كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً</h5>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh, </em>[QS. Al-Ahzaab : 72]</p>
<p>Pada ayat di atas disebutkan bahwa langit, bumi dan gunung-gunung tidak berani memikul amanat, dan manusialah yang sanggup memikul amanat, maka pada akhir ayat dijelaskan bahwa manusia itu amat dhalim dan amat bodoh. Maksudnya manusia yang tidak menunaikan amanat atau berbuat khianat adalah sangat dhalim dan sangat bodoh.</p>
<p>Kaum muslimin dan muslimat rahimakumulullah, begitu pula apabila kita telah membuat perjanjian dengan sesama manusia, maka kita pun wajib melaksanakannya. Firman Allah SWT :</p>
<h5 align="right">وَ اَوْفُوْا بِاْلعَهْدِ اِنَّ اْلعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْل</h5>
<p><em>Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya</em>. [QS. Al-Israa' : 34]</p>
<h5 align="right">ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تَخُوْنُوا اللهَ وَ الرَّسُوْلَ وَ تَخُوْنُوْا اَمَانتِكُمْ وَ اَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ</h5>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui</em>. [QS. Al-Anfaal : 27]</p>
<h5 align="right">اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا اْلاَمَانتِ اِلى اَهْلِهَا</h5>
<p><em>Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya</em>. [QS. An-Nisaa' : 58]</p>
<p>Menjaga amanat adalah sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT :</p>
<h5 align="right">وَ الَّذِيْنَ هُمْ ِلاَمنتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ(8) وَ الَّذِيْنَ هُمْ عَلى صَلَوتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ(9) اُولئِكَ هُمُ اْلوَارِثُوْنَ(10) الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ اْلفِرْدَوْسَ، هُمْ فِيْهَا خلِدُوْنَ(11)</h5>
<p><em>Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (8)</em></p>
<p><em>dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (9)</em></p>
<p><em>Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (10)</em></p>
<p><em>(ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (11)</em> [QS. Al-Mukminuun : 8-11]</p>
<h5 align="right">وَ الَّذِيْنَ هُمْ ِلاَمنتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ(32) وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهدتِهِمْ قَآئِمُوْنَ(33) وَ الَّذِيْنَ هُمْ عَلى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ(34) اُولئِكَ فِيْ جَنّتٍ مُّكْرَمُوْنَ(35)</h5>
<p><em>Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (32)</em></p>
<p><em>Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (33)</em></p>
<p><em>Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (34)</em></p>
<p><em>Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (35)</em> [QS. Al-Maa'rij : 32-35]</p>
<p>Pada ayat di atas dijelaskan bahwa orang-orang yang menjaga amanat akan dimasukkan ke dalam surga. Dan Allah tidak suka kepada orang-orang yang khianat, Firman Allah SWT :</p>
<h5 align="right">…. اِنّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ</h5>
<p><em>…</em><em>… Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. </em>[QS. Al-Hajj : 38]</p>
<h5 align="right">…. اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًا</h5>
<p><em>…</em><em>.</em><em>…</em><em>.. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, </em>[QS. An-Nisaa' : 107]</p>
<p>Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, di dalam Al-Qur’an Allah SWT membuat contoh istri yang berkhianat kepada suaminya, maka akhirnya istri tersebut masuk neraka. Firman Allah SWT :</p>
<h5 align="right">ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً ِلّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّ امْرَاَتَ لُوْطٍ، كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللهِ شَيْئًا وَّ قِيْلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ</h5>
<p><em>Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”. </em>[QS. At-Tahrim : 10]</p>
<p>Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang pentingnya menjaga amanat dan menjauhkan diri dari sifat khianat, sebagaimana riwayat berikut ini :</p>
<h5 align="right">عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: ايَةُ اْلمُنَافِقِ ثَلاَثٌ. اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ اِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَ اِذَا ائْتُمِنَ خَانَ</h5>
<p><em>Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tanda orang munafiq ada tiga perkara, yaitu : 1. Apabila berbicara ia berdusta, 2. Apabila berjanji menyelisihi dan 3. Apabila diberi amanat ia khianat”</em>. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14]</p>
<p>Dan Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h5 align="right">اِضْمَنُوْا لِى سِتًّا، اَضْمَنْ لَكُمُ اْلجَنَّةَ. اُصْدُقُوْا اِذَا حَدَّثْتُمْ، وَ اَوْفُوْا اِذَا وَعَدْتُمْ، وَ اَدُّوْا اِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَ غُضُّوْا اَبْصَارَكُمْ، وَ كُفُّوْا اَيْدِيَكُمْ</h5>
<p><em>“Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara, niscaya aku menjamin surga bagi kalian : 1. Jujurlah apabila kalian berbicara, 2. Sempurnakanlah (janji kalian) apabila kalian berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kalian diberi amanat, 4. Jagalah kemaluan kalian, 5. Tundukkanlah pandangan kalian (dari ma’shiyat) dan 6. Tahanlah tangan kalian (dari hal yang tidak baik)</em>. [HR. Ibnu Hibban, dari 'Ubadah bin Shamit, juz 1, hal. 506, no. 271]</p>
<p>Di hadits lain Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h5 align="right">لاَ اِيْمَانَ لِمَنْ لاَ اَمَانَةَ لَهُ وَ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ</h5>
<p><em>“Tidak (sempurna) iman bagi orang yang tidak ada amanat baginya, dan tidak ada agama bagi orang yang janjinya tidak bisa dipercaya”</em>. [HR. Baihaqi dari Anas juz 9, hal. 231]</p>
<p>Dan juga Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h5 align="right">قَالَ اللهُ: ثَلاَثَةٌ اَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ: رَجُلٌ اَعْطَى بِى ثُمَّ غَدَرَ، وَ رَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَ رَجُلٌ اسْتَأْجَرَ اَجِيْرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَ لَمْ يُعْطِهِ اَجْرَهُ</h5>
<p><em>“Allah berfirman : Ada tiga golongan yang besuk pada hari qiyamat menjadi musuh-Ku; 1. Orang yang berjanji dengan nama-Ku, kemudian dia khianat, 2. Orang yang menjual orang merdeka, lalu ia makan harganya (hasil penjualan itu), dan 3.&#160; orang yang mempekerjakan buruh (karyawan) dan karyawan itu telah bekerja dengan baik, tetapi orang tersebut tidak memberikan upahnya”</em>. [HR. Bukhari, dari Abu Hurairah, juz 3, hal. 41]</p>
<p>Demikianlah, semoga Allah memberikan kepada kita sifat amanah dan menjauhkan kita dari sifat khianat, aamiin.</p>
<p><em>Sumber : Materi Nafar MTA (7) 1432H</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/tunaikanlah-amanat-jangan-berkhianat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Unsur Pengabdian</title>
		<link>http://kultum.net/3-unsur-pengabdian.html</link>
		<comments>http://kultum.net/3-unsur-pengabdian.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 01:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[taat pada Allah]]></category>
		<category><![CDATA[tunduk pada Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/2011/09/3-unsur-pengabdian.html</guid>
		<description><![CDATA[Manusia diciptakan dengan tugas beribadah kepada Allah swt., sebagaimana firman-Nya, &#34;Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzaariyat:56). Manakala manusia hendak mengabdi kepada Allah swt., harus ada tiga unsur yang dipenuhinya dalam hidup ini, yaitu sebagai berikut: 1. KETUNDUKAN HATI KEPADA ALLAH SWT Ketundukan hati kepada Allah membuat seorang muslim tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Manusia diciptakan dengan tugas beribadah kepada Allah swt., sebagaimana firman-Nya, <em>&quot;Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” </em>(Adz-Dzaariyat:56).</p>
<p align="justify">Manakala manusia hendak mengabdi kepada Allah swt., harus ada tiga unsur yang dipenuhinya dalam hidup ini, yaitu sebagai berikut:</p>
<div align="justify"><span id="more-7"></span></div>
<p align="justify"><strong>1. KETUNDUKAN HATI KEPADA ALLAH SWT</strong></p>
<p align="justify">Ketundukan hati kepada Allah membuat seorang muslim tidak merasa berat dalam menjalankan pengabdian, bahkan dia tidak akan bersedih hati bila hal-hal yang tidak menyenangkan menimpa dirinya. </p>
<p align="justify">Allah berfirman: <em>&quot;Tidakl Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.&quot;</em> (al-Baqarah: 1 12).</p>
<p align="justify"><strong>2. TAAT PADA ALLAH TANPA PERASAAN BERAT</strong></p>
<p align="justify">Pengabdian kepada Allah swt. hanya bisa dilakukan manakala seseorang tidak memiliki perasaan berat pada ketentuan-Nya. </p>
<p align="justify">Allah berfirman: &quot;<em>Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkam yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rusa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima de-ngan sepenuhnya.”</em>(an-Nisaa`: 65)</p>
<p align="justify"><strong>3. MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH</strong></p>
<p align="justify">Apa pun yang dilakukan manusia dalam hidup ini, bila diserahkan sepenuhnya kepada Allah, yakni dalam rangka mencari ridhaNya, maka dia bisa termasuk orang yang mengabdikan diri kepada-Nya. </p>
<p align="justify">Allah swt. berfirman: <em>&quot;Katakanlah (Muhammad). &#8216;Sesungguhnya slmlntku, ibadahku, hidupku. dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan seluruh alam.&quot;&#8217;</em>(al-An`aam: 1 62)    </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/3-unsur-pengabdian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Perkara Sebelum Tidur</title>
		<link>http://kultum.net/4-perkara-sebelum-tidur.html</link>
		<comments>http://kultum.net/4-perkara-sebelum-tidur.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 00:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[sebelum tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kultum.net/2011/09/4-perkara-sebelum-tidur.html</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra :  “Ya Aisyah janganlah engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu : 1. Sebelum khatam Al Qur’an, 2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir, 3. Sebelum para muslim meridloi kamu, 4. Sebelum kau laksanakan haji dan umroh. Aisyah bertanya : “Ya Rasulullah&#8230; Bagaimana aku dapat melaksanakan empat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra :  “Ya Aisyah janganlah engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :</p>
<p align="justify">1. Sebelum khatam Al Qur’an,<br />
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,<br />
3. Sebelum para muslim meridloi kamu,<br />
4. Sebelum kau laksanakan haji dan umroh.<span id="more-4"></span></p>
<p align="justify">Aisyah bertanya : <em> “Ya Rasulullah&#8230; Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” </em></p>
<p align="justify">Rasul tersenyum dan bersabda :  “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau  mengkhatamkan Al Qur’an. Bacalah sholawat untukku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat. Beristighfarlah untuk para muslimin, maka mereka akan meridhai kamu. Dan, perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kultum.net/4-perkara-sebelum-tidur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

